Siang angin sepoi-sepoi mengusik ketidaktenanganku, lalu-lalang santri tanpa henti mengejar makanan yang memang haknya, kecuali yang belum membayar uang makan karena tidak punya uang atau uangnya suda terpakai untuk mentraktir teman-temanya. Itu semua tak mengganggu konsentrasiku yang sedang duduk sendiri di depan gedung Al-azhar sambil memandangi kolam renang yang membuatku diberihukuman botak pertamakalinya sejak aku pindah dari pondok modern Gontor I dikarenakan tidak naik kelas. Hanya karena menceburkan diriku ke kolam renang, lalu ustadz Sholahuddin seketika muncul membawa gunting untuk mencukur rambutku hingga tak beraturan, aku berkata, “Sina’ gondok, hadisan sibahmud datan kholas mahluq, mangkel aku baru renang bentar sudah dibotak aja.”.
Tapi akhirnya ada yang merusak konsentrasiku, “Wid ngelamun aja…., udah kemaren gak naek…, ngelamun lagi, mendingan baca buku, gak makan? Anak-anak pada tajamu’ tuh,” kata Sujek. Tajamu’ adalah makan secara bersama-sama di satuwadah yang ditentukan. Begitulah teman-temanku menyapaku kadang-kadang membuatku berpikir mengapa aku tidak naik kelas? Tapi kadang-kadang aku berpikir bahwa yang berkata seperti itu juga temanku yang tidak naik kelas dan dia juga sering ngelamun. Ah yang penting aku harus bermanfaat bagi orang lain khususnya teman-temanku yang juga tidak naik kelas. Akhirnya ku memutuskan untuk makan bersama-sama.
Keesokan harinya, seprti biasa kegiatan masuk kelas, santri-santri ada yang berjalan cepat dan berlarian tak mau dihukum karena terlambat, walaupun selalu ada yang terlambat, dan parahnya ternyata orangnya itu-itu saja sampai membuat Ustadz bosan menghukum mereka, dan parahnya lagi kadang-kadang aku termasuk bagian dari mereka.
Ketika santri-santri sudah masuk kelas, tiba-tiba ada seorang anak yang mengaku dirinya harismaskan (piket rayon) memasuki kelas kami sambil membawa secarik kertas. Kami bertanya-tanya, apakah itu pengumuman atau panggilan yang membuat seseorang dihukum. “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”, serentak kami menjawab, ”waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh”, lalu ia melanjutkan, “summoun to LAC office after dzuhur prayer sooner, they’re : Wiwid, Rois, Adipanji. They’re student of six. Lalu farid teman sebangku ku saat itu berkata, “mampus ente paling botak lagi, lalu aku menjawab, “kalo ana botak ana jadi jasus ( mata-mata yang menulis kesalahan orang lain), terus ana tulis ente dengan kesalahan bicara bahasa sunda, udah gitu botak juga, ha….ha….., ia pun tak mau kalah, “setelah itu ana jadi jasus juga terus ana laporin ente sering gak ke masjid terus dijemur,ha….ha…., aku pun semakin panas, abis itu ana laporin ente sering tajamu’ trus dibotak lagi anpek yulitnya dikerik. Begitulah kami sampai salah satu dari kami mengalah, biasanya .temanku yang mengalah karena ia tau aku takkan mengalah walau salah.
Setelah shalat dhuhur, Aku, Adipanji, Rois, berjalan menuruni tangga yang begitu panjang, dan menjadi salah satu tangga yang dibenci karena begitu melelahkan untuk menaikinya apalagi kalau disuruh berlari menaiki tangga agar tidak terlambat masuk kelas atau ke masjid. Akhirnya tak terasa kami sudah berada di depan kantor LAC (kantor Ustadz pengurus kegiatan berbahasa). Beliau-beliaulah yang bertanggungjawab atas berjalannya kegiatan berbahasa di pondok ini. Setelah kami bertemu dengan salah satu Ustadz di kantor itu, kami baru tahu ternyata kami dipanggil untuk menjadi pembawa acara English drama contest antar rayon yang akan dilaksanakan minggu depan, sebenarnya ini hanya tawaran dan kami disuruh memilih ingin mendapat pengalaman atau tidak, begitulah kata salah satu Ustadz di kantort adi.
Yang terpikir olehku adalah apakah aku bias dengan kemampuanku seperti ini? Di tambah kepercayaan diriku berkurang setelah aku tidak naik kelas yang sebelumnya 50% menjadi 20%, walaupun sebelumnya juga hanya 50% yang terbilang sedikit tapi intinya turun menjadi 20%. Aku hanyalah orang yang tak bias mengatur diriku sendiri, ditambah lagi kedua temanku adalah orang yang bernaasib sama denganku tidak naik kelas, jadi aku berpikiran kami adalah sekelompok pecundang yang akan dipertontonkan di atas panggung nanti. Tapi aku ingat kata-kata kyaiku Ustadz Syukri Zarkasyi, “Di pondok ini banyak gesekan, cobaan, ujian mental. Tapi jangan kalian memikirkannya jalani saja karena akan menjadi mudah”.“Ha…..ha….ha…..”.Aku tertawa keras, aku akan melakukan apa saja yang aku inginkan sekarang. Tapi terlintas lagi dalam benakku tentang apa yang aku miliki tak seperti mereka yang sering menjadi pembawa acara seperti ini. Lalu aku teringat lagi oleh tulisan yang ditempel di dinding rayonku, “You can if you think you can.” Lalu aku, “Ha….ha….ha….,” aku akan berpikir bias walaupun tak bisa, kalaupun salah dunia takkan kiamat, atau ada beberapa kemungkinan, dimarahi Ustadz, pengasuh pondok, yang lebih parah dibotak. Lalu aku dan kedua temanku memulai latihan dengan apa yang kami punya. Aku sampaikan pada teman ku bahwa kita sebagai pembawa acara, yang terpenting adalah bagaimana membawa audience dengan joke-joke yang membuat mereka senang. Begitulah kami setiap sore saling mengevaluasi, melatih intonasi, dan pengucapan hingga gladikotor dan gladi bersih kami lewati walau tak begitu memuaskan.
Malam dingin hawa desa Mangun Sari Magelang menusuk tulangku yang dilapisi daging dan kulit ditambah baju kemeja biru, dasi, rompi, jas, diterangi cahaya bulan dan lampu menerangi panggung beserta backgroundnya. Ternyata mantra tadi, “You can if you think you can”, berhasil menghipnotisku begitu juga dengan kedua temanku dengan prisip-prinsip mereka. Bersama kami memimpin jalannya acara dari awal sampai akhir dengan joke-joke yang membuat audience tertawa, dan yang tak kusangka ternyata kami berbahasa Inggris dengan lancer memimpin jalannya acara dari awal hingga akhir. Akhirnya kami percaya, “You can if you think you can.” Sampai pada evaluasi di akhira caraUstadz Muhammad berkata,” Wiwid, Rois, Adi, you did great.”.
Tulisan HaryWidyantoro
Tidak ada komentar:
Posting Komentar