Kamis, 17 November 2011

Latihan Kader 1 (LK)

Catatatan  (Latihan Kader) 1LK  hmi komfak syariah dan hukum
Oleh : panitia (Qhutub)  dan peserta (hilma)

* catatanpanitia
Latihan Kader I (selanjutnya LK I) yang telah diselenggarakan oleh HMI Kom-Fak Syari’ah & Hukum pada 20-23 Oktober 2011 di ponggok, bantul Alhamdulillah berjalan dengan lancer sesuai dengan scenario yang semestinya. Hal ini tentu dapat menambah suasana kehangatan yang baru bagi para pengurus dan kader HMI Kom-Fak Syariah & Hukum karena bertambahnya kader baru yang sebanyak 14 orang dengan ‘komposisi’ 1 perempuan dan sisanya laki-laki. Yang diharapkan dikemudian hari dapat meneruskan perjuangan dan perkaderan di HMI.

Wacana Kabinet Indonesia


Wacana reshuffle kabinet Indonesia bersatu jilid II dimulai ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan pernyataan dalam forum Tarbiyah Islamiyah di Jambi (22/9), SBY mengatakan : ‘Bulan depan akan genaplah Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II berusia dua tahun. Sehingga dengan pola pikir seperti itu, evaluasi separuh jalan, saya mesti mengatakan sekaranglah saat yang tepat untuk melakukan penataan kembali atas kabinet yang saya pimpin,’. Pernyataan presiden tersebut mendapat konfirmasi dari Staf Khusus Presiden bidang Komunikasi Politik Daniel Sparingga yang menyebutkan bahwa reshuffle akan dilakukan pada hari-hari pertama memasuki tahun ketiga kabinet.

Pemuda


100 orang hanya bermimpi, tetapi berikanlah aku 10 pemuda maka akan ku guncang dunia!”Itulah sepenggal pidato dari Bung Karno yang menunjukkan betapa kuatnya harapan Bung Karno terhadap pemuda Indonesia sebagai generasi penerus bangsa untuk terus berkarya. Pemuda memang bukanlah sekedar kategori manusia, juga bukan sekedar bagian khas dari penjumlahan penduduk, tetapi dia adalah salah satu penggerak sejarah manusia. Dan karena itu tidak salah jika sejarawan senior Taufik Abdullah menyatakan bahwa istilah pemuda menyandang didalam dirinya beban sejarah.

You can if you think you can


Siang angin sepoi-sepoi mengusik ketidaktenanganku, lalu-lalang santri tanpa henti mengejar makanan yang memang haknya, kecuali yang belum membayar uang makan karena tidak punya uang atau uangnya suda terpakai untuk mentraktir teman-temanya. Itu semua tak mengganggu konsentrasiku yang sedang duduk sendiri di depan gedung Al-azhar sambil memandangi kolam renang yang membuatku diberihukuman botak pertamakalinya sejak aku pindah dari pondok modern Gontor I dikarenakan tidak naik kelas. Hanya karena menceburkan diriku ke kolam renang, lalu ustadz Sholahuddin seketika muncul membawa gunting untuk mencukur rambutku hingga tak beraturan, aku berkata, “Sina’ gondok, hadisan sibahmud datan kholas mahluq, mangkel aku baru renang bentar sudah dibotak aja.”.

RIDHO’NYA


RIDHO’NYA
Wajah ku, aku hadapkan pada-Mu.
Tangan ku, aku tadahkan pada-Mu.
Ku minta semua yang ku inginkan pada-Mu, apakah Kau akan memberikannya?
Ku ceritakan segala keluh kesah ku, apakah Kau akan setia mendengar?
Ku bilang terserah pada-Mu.

Mengesampingkan Hukum dan keadilan diabaikan


Sengaja saya menulis dengan mengangkat tema ini, karena saya melihat masih banyak ketimpangan dan ketidakadilan yang kerap terus terjadi di kalangan masyarakat. Di mana saat ini kita lihat dengan secara nyata bahwa pemerintah yang seharusnya berkewajiban untuk melindungi masyarakatnya dari hak-haknya sebagai warga Negara agar jauh dari segala penindasan, kezaliman dan ketidakadilan namun yang ada hanyalah kekecewaan semata.